Rabu, 09 November 2011

MERLIN MOL

Merlin Mol convention centre terletak di kota Bandung, yang memiliki fasilitas sebagai berikut :
-         Parking Space available for 200 cars
-         Room Numbers 320 rooms
-         Food and Beverage Service : Coffee shop, Gourmet Restaurant, Function Rooms (Bali Room, Seram Room, serta Flores Room), fasilitas bank,  money changer, telecommunication service, shopping centre.
Sejauh ini telah dilaksanakan berbagai konvensi skala internasional dan nasional. Adapun pelayanan Pre, During and Post Conference Tours terbatas bagi atraksi-atraksi wisata di Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Saudara diminta untuk memberikan pendapat tentang fasilitas dan pelayanan konvensi yang harus disediakan bagi pangsa pasar Merlin Mol.

Buatlah analisa kebutuhan fasilitas dan pelayanan yang ada saat ini serta kebutihan masa yang akan datang (forecasting).

“HAWAIIAN SIGHTS”

Setelah Sembilan bulan beroperasi, Hawaiian Sights berusaha keras meminta bantuan dari operator tur. Pada periode sebelumnya komentar dari banyak pihak menyatakan bahwa tur jenis itu dibutuhkan dan akan terjual tanpa kesulitan, tetapi yang mengherankan keberhasilan penjualan masih sulit dicapai.
Sebagai tur berjalan kaki, Hawaiian Sights menjelajahi area paling sedikit dikunjungi yang disebut “Olde Honolulu” yang biasanya dihindari bus-bus tur; (1) Pusat Perkantoran Pemerintah dan Pusat Sejarah, (2) Pusat Kota atau Pusat Bisnis, dan (3) Daerah Pecinan. Tur itu membuat turis berbaur dan bersahabat dengan orang Hawaii yang “sebenarnya” jauh dari Waikiki dan dipandang sebagai pengalaman baru  lisan dan historis.
Tur dimulai dengan pemandu/pembimbing menemui klien di lokasi yang telah direncanakan di Waikiki. Kelompok itu akan naik bus kota dan diturunkan (20 menit kemudian) didepan gedung pemerintah Negara bagian. Ceritanya berlanjut empat jam berikutnya. Kelompok itu menghabiskan satu jam untuk makan siang dan berbelanja di Fort Street Mall dan kembali lagi ke Waikiki dengan bus kota.
Gagasan mengenai Hawaiian Sights muncul pada diri Evelyn Wako ketika dia mencatat bahwa tur kota konvensional mengabaikan bagian terpenting Hawaii, yakni orang-orangnya. Sebagian besar turis berkendara di Honolulu sambil melihat kota itu melalui jendela bus. Evelyn merasa bahwa jika turis benar-benar ingin memahami Hawaii, mereka harus turun dari bus. Evelyn tahu bahwa tur berjalan kaki berhasil di Eropa, maka mengapa tidak akan berhasil di Hawaii ???
Konsep tur yang memaksa pelanggan naik bus kota dan berjalan kaki begitu berbeda dengan tur lain sehingga operator informasi perjalanan dan biro perjalanan memberi Hawaii Sights sedikit dorongan dan kerja sama.
Mereka juga berkata struktur komisi dasar 20% dari item produk $20 (harga eceran) tidak menghasilkan cukup penerimaan yang menarik mereka.
Selama tiap-tiap tur,  pemandu akan naik bus kota bersama dengan kelompok mereka di Pusat Sejarah. Sebelum naik bus, kelompok itu diberi pengarahan singkat  tentang apa yang akan dialami. Mereka diberi tahu bahwa lebih dari 70% penduduk Hawaii adalah “non kaukasian”. Turis tersebut melihat busnya akan berubah dari bus khusus turis menjadi bus lokal bila semakin jauh begerak dari Waikiki.
Sifat Hawaiian Sights yang tidak lazim itu menyebabkan dia dapat dimasukkan ke brosur tur sejumlah operator tur dan dua perusahaan penerbangan. Karena penjualan lebih rendah daripada yang diharapkan, Evelyn mencari cara mengiklankan turnya. Dia merasa bahwa salah satu cara yang mungkin adalah membagi-bagikan brosur ke para turis dijalan.
Dia sedang berfikir untuk memperkerjakan  gadis-gadis yang memakai rok dari rumput untuk bertindak sebagai salesgirl. Itu pasti akan mendapatkan reaksi negatif dari kelompok-kelompok tertentu penduduk Hawaii. Evelyn tahu bahwa biro perjalanan hotel masih merupakan alat penjualan kunci. Operator-operator biro bersikap negatif sejak awalnya. Mereka merasa bahwa klien mereka kelas atas sehingga kurang pas bila naik bus kota.
Turis yang telah ikut tur berjalan kaki pada Hawaiian Sights memeringkat tur jauh lebih unggul dibandingkan tur bus konvensional. Hawaiian Sights menawarkan jaminan “kepuasan terjamin, bila tidak, uang kembali,” sebegitu jauh tidak ada pelanggan yang telah menyatakan kekecewaan. Dengan semua yang baik-baik itu, yang mengherankan Evelyn belum menemukan cara menarik jumlah turis yang memadai yang dapat membuat bisnis baru itu menguntungkan.


Pertanyaan :

1.         Apakah  anda yakin bahwa Hawaiian Sigths akan menjadi daya tarik bagi kebanyakan turis yang mengunjungi Hawaii ? Jika tidak yakin apa alasannya ?

2.         Bagaimana profil yang mungkin atas segmen pasar Hawaiian Sighths ?

3.         Teknik-teknik promosi apa yang dapat digunakan Evelyn untuk menjual tur itu ke turis?; ke operator tur?; ke petugas biro perjalanan?

4.         Menurut anda, mengapa biro perjalanan dan operator perjalanan tidak bersemangat menyambut Hawaiian Sights?

5.         Apa pendapat anda mengenai gagasan Evelyn mempekerjakan gadis-gadis dan memberi mereka rok hula untuk membagi-bagikan brosur dipinggir jalan Waikiki kepara turis yang lewat?

Selasa, 08 November 2011

TOURISM INDONESIA MART & EXPO (TIME) 2011 IN LAMPUNG ON SUMATRA

The city of Bandar Lampung at the most southern tip of the island of Sumatra will this year host Indonesia’s annual travel mart: the Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) or Pasar Wisata Indonesia, to be held from October 12th to 14th at the Novotel Hotel Lampung.  

TIME is a special event that brings together Indonesia’s sellers to meet international buyers of Indonesia’s tourism products at this special “contract” show. The event will present the best of Indonesian tourism including popular travel destinations, incredible tourism sites, and the latest of Indonesia’s tourism hotels, destinations, airlines and services.
TIME was the first ever, and continues to be the only international travel mart in Indonesia allowing only special Business to Business contacts and negotiations, and is acknowledged by the international travel industry as the perfect meeting place for those who sell Indonesia’s tourism products and services (sellers) to directly meet the international market (buyers) all under one roof.
TIME has long been listed in the calendar of international travel marts together with such prestigious events as ITB Berlin, WTM London, Arabian Travel Mart (ATM), PATA Travel Mart, and similar.
This year marks the 17th edition of the Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME). The event is organized by the Indonesian Tourism Society (Masyarakat Pariwisata Indonesia) and is supported by entire range of tourism stakeholders, including the Ministry of Culture & Tourism, the Provincial Government of Lampung, the Culture & Tourism Office of Lampung Province, Garuda Indonesia  as Official Airline, other supporting airlines , the Indonesia National Air Carriers Association (INACA), the Board of Airline Representatives in Indonesia (BARINDO), the Association of Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA), the Indonesia Hotels and Restaurant Association (PHRI),the  Indonesian Conference and Convention Association (INCCA), with Titan Convex as the event organizer, supported by national and international media.
Last year, when TIME 2010 was staged in Lombok the event recorded a total transaction of US$ 17.8 million, while this year, organizers project an increase of between 15-18% to reach total estimated contracts to a value of US$ 20 million.   
During the signing of the MOU between the Indonesian Tourism Society (Masyarakat Pariwisata Indonesia) and the Culture & Tourism Office of Lampung Province, Chairperson and Steering Committee of TIME 2011, Meity Robot, said that “TIME buyers this year comprise international tour operators, while sellers include hotels, airlines and tourism destination stakeholders,” said Meity.
Over 100 buyers" from 30 countries will be present at this prestigious event, including those from the United States of America, Germany, and Holland. There will also be buyers from new markets for Indonesia such as Slovenia, Slovakia, Greece, the Czech Republic, and Mexico.
Meanwhile, Head of the Culture and Tourism Office, Gatot Hadiutomo , mentioned  that TIME 2011 in Lampung be linked to the annual Mt.  Krakatau Festival , adding that the province is ready to welcome all guests to TIME and the Krakatau  Festival with the thrilling rolling waves of Tanjung Setia beach, the exotic wildlife of Bukit Barisan Selatan National Park, the Way Kambas Elephant Reserve, and obviously an unforgettable visit to the mighty Krakatau volcano










SEE JAKARTA, JOGYAKARTA AND ITS FASCINATING


Diakhir kegiatan suatu convention tingkat dunia di bidang travel bisnis yang membicarakan pembinaan dan pengembangan industri pariwisata di belahan Asia Pasific. Maka sebagian peserta konvensi masih berada di Jakarta dan Jogyakarta.
Jumlah peserta yang masih tinggal di kedua kota tersebut berjumlah lebih kurang 210 orang (Jakarta 140 orang; Jogyakarta 70 orang).

Para peserta yang masih berada di kedua kota tersebut masih mencari alternative untuk lebih dan memahami Indonesia dari berbagai segi baik secara kultur, alam dan lingkungan hidup yang saat ini menjadi issues internasional, dan peserta tersebut ingin mencari option untuk mengisi kegiatan yang berkualitas.
Oleh karena itu para peserta tersebut masih memanfaatkan hubungan dengan  Organizer konvensi  yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan pertemuan tersebut. Dengan demikian pertanyaan banyak muncul dan berdatangan kepada penyelenggaraan yang berkaitan dengan topik-topik tour, rekreasi, shopping, entertainment dan hal-hal lain yang berhubungan.
Sebagai gambaran profil   dari peserta yang berjumlah 210 orang tersebut adalah :
1.    Jenis kelamin 60% pria dan 40%  wanita.
2.    Rentang Usia 12,8% 35-45 tahun; 42,2% 46-59 tahun; 30,5% 60-65 tahun; 15,5% over 65 tahun.
3.    Pekerjaan 36% Executive; 23% Ilmuwan; 22% Entrepreneur; 16% Government Official; 3% Student.
4.    Kebangsaan 35% Asia; 25% Eropa; 20% Amerika; 6% Timur Tengah; 5% Afrika; 9% Lainnya.
5.    Income 5% 2000-4000 US$; 10% 4001-6000 US$; 45% 6001-8000 US$; 25% 8001-10.000 US$; 15% Over 10.000 US$
Untuk mengisi kegiatan optimal para peserta seminar dan dalam upaya memberikan pengalaman yang berkualitas dan bernilai kepada mereka mengennai Indonesia, maka penyelenggara konvensi dimintakan perannya sebagai tour organizer untuk dapat merencanakan  paket-paket jangka pendek kepada seluruh peserta.
Secara konkrit anda diminta;
a.  Menyusun dan merencanakan seri kegiatan rekreasi yang berhubungan dengan entertainment, shopping dan fasilitas lainnya.
b.  Menuyusun dan menawarkan seri kegiatan wisata di kedua kota tersebut yang menyangkut kegiatan wisata alam dan budaya.
c.   Aktifitas-aktifitas lain yang dapat mengoptimalkan proses kegiatan peserta secara berkualitas.

PELANCONG BISNIS

Pelancong bisnis merupakan segmen terbesar industri perhotelan, yang nilainya lebih dari separuh penerimaan kamar hotel. Pasar itu berpendidikan tinggi, berkantong tebal dan menempati posisi dibidang penjualan, manajemen, atau profesional. Pelancong bisnis lebih banyak membaca dan lebih sedikit menonton televisi dibandingkan kebanyakan orang Amerika. Alasan nomor satu untuk melakukan perjalanan bisnis adalah urusan penjualan.
Dalam memilih hotel, pelancong bisnis memperhatikan lokasi yang nyaman, kebersihan dan pelayanan, harga kamar, dan reputasi. Kelengkapan kamar yang diinginkan, meliputi kasur yang bermutu baik, handuk mandi yang berat, meja, telepon yang gratis untuk panggilan lokal dan yang tidak lebih mahal dibandingkan tarif umum untuk panggilan jarak jauh. Panggilan lokal yang gratis itu merupakan faktor yang penting bagi wiraniaga. Manfaat nomor satu yang dicari oleh pelancong bisnis adalah check-in yang cepat. Adapula kecenderungan untuk meminta kamar yang bebas rokok. Howard Fiertag, dari VPI menyatakan: “Awalnya, hotel mengalokasikan 50% kamarnya sebagai kamar bebas rokok dan saya sangat tidak kaget jika kemudian hingga 90% kamar dialokasikan ketamu yang tidak merokok.”
Bagi pelancong bisnis kelas atas, elemen yang paling pokok mengenai kamar kelas bisnis adalah tempat kerja yang kualitasnya ditingkatkan dengan meja yang ukurannya lebih besar, port data untuk hubungan modem, telepon ganda, colokan listrik yang mudah dijangkau, kursi yang nyaman, dan lampu yang terang. Frank Camacho, Wakil Presiden serta Direktur Penjualan dan Pemasaran Divisi Sheraton Amerika Utara, menjelaskan bahwa kamar tidak dapat bersaing dipasar kelas bisnis jika tidak mempunyai berbagai kelengkapan itu. Riset yang dilakukan di Sheraton menciptakan jauh lebih banyak nilai bagi pelancong bisnis dibandingkan mesin fax semata-mata.
Riset yang dilakukan Hyatt teradap pelancong bisnis menemukan bahwa mereka merupakan segmen yang sepenuhnya mementingakan tugas. Selama bepergian, mereka mengaku bekerja hampir 15 jam sehari. Hampir separuh dari mereka, 45% mengatakan mereka terpaksa melewatkan peristiwa penting seperti natal, ulang tahun perkawinan, atau merawat pasangan yang sakit sewaktu ditinggal bepergian. Selain itu, 80% dari mereka terpaksa bepergian pada ulang tahun anaknya. Namun, dibalik pengorbanan dan kerja keras itu, mereka suka memanjakan diri. Berikut ini laporan daftar cara pemanjaan diri yang dilakukan pelancong bisnis selama bepergian:
51%       Bersukacita menikmati makanan mahal
49%       Mencari jawaban masalah di klub kebugaran
47%       Memesan layanan kamar
42%       Menonton bioskop dalam kamar
32%       Pergi shopping
19%       Makan makanan berlemak

Lebih separuh  pelancong bisnis membayar $50 semalam, dan sekitar 11% membayar lebih dari $100 semalam. Temuan riset yang mengagetkan adalah bahwa lebih dari 60% pelancong bisnis melakukan reservasi sendiri. Nomor telepon bebas biaya sangat penting bagi pelancong bisnis. Itulah yang menjadikan mereka melakukan reservasi sendiri tanpa melalui agen perjalanan atau sekertaris. Informasi mengenai pelancong bisnis membantu hotel mengembangkan tawaran pemasaran untuk menarik perhatian segmen itu.

Salah satu cara melakukan subsegmentasi segmen yang besar itu adalah melalui harga yang pelancong tersebut mau bayar. Yang mencari penginapan yang murah biasanya adalah pelancong wiraiaga, wirausahawan, atau pekerja pemerintah. Pengeluaran harian kelompok itu dibatasi oleh organisasi, atau dalam kasus wirausahawan, itu langsung diambil dari pendapatan mereka. Kelompok itu akan mempertukarkan kelengkapan lain, seperti restoran hotel, supaya dapat memperoleh kamar yang nyaman dibawah $50. La Quinta, Red Roof Inns, Hampton Inns, dan Farfield Inns telah membidik segmen itu.

Segmen berikutnya adalah pelancong bisnis kelas menengah. Hotel dengan layanan yang sangat luas mengejar segmen itu. Hotel itu meliputi Courtyard milik Marriot, Hilton, Holiday Inns,Marriot dan Ramada. Perhatikan bahwa Marriot mempunyai dua produk untuk mendapatkan pasar itu. Courtyard berada diujung bawah dalam cakupan itu, sedangkan Hotel Marriot berada diujung atas dalam cakupan itu. Marroit merasa bahwa dia tidak dapat meliput segmen itu secara memadai dengan hanya satu produk.

Pelancong bisnis kelas atas akan tertarik pada Four Seasons, Ritz Carlton, Stoufers, dan Westin. Hotel itu menawarkan layanan dan kelengkapan ekstra yang diinginkan pelancong kelas atas. Hotel itu mampu menutup biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan kelengkapan ekstra itu dengan menetapkan harga yang lebih tinggi atas kamar hotel.

Karena pasar hotel semakin ketat persaingannya, rantai hotel akan mengembangkan merek dan variasi yang diarahkan kesegmen-segmen yang didefinisikan dengan baik.

Pertanyaan Untuk diskusi:
1.    Jelaskan proses segmentasi pasar, pembidikan pasar, dan penetapan posisi pasar.
2.    Peran apa yang dimainkan oleh atribut produk dan persepsi tentang atribut dalam penetapan posisi suatu produk? Dapatkah atribut yang biasa terdapat dalam sejumlah merek yang bersaing menyumbang bagi keberhasilan strategi penetapan posisi?
3.    Berapa restoran ingin mengembangkan restoran yang dapat memenuhi kebutuhan semua orang. Mengapa kebijakan itu berbahaya?

IMIGRASI MENAIKAN BIAYA VISA

Indonesia membuat peraturan dadakan mengenai Visa on Arrival. Cukup merepotkan. Ketua Care Tourism, Wuryastuti Sunario, tanggal 25-1-2010 malam mengirim SMS ini : Menurut info dari Singapura, mulai besok Imigrasi akan menghapus US$ 10 fee untuk visa satu minggu, dan memberlakukan US$ 25 untuk visa satu bulan. Ini akan langsung mematikan pariwisata ke Batam dan Bintan dan Jakarta bagi yang short stay, apalagi Malaysia memberi fasilitas visa free.”
Kemudian, Wuryastuti Sunario memperjelas tanggapannya. “Kebanyakan pejabat Indonesia di Pusat melihat Indonesia dari sisi pandang Jakarta. Banyak yang masih melihat perkembangan pariwisata Indonesia seakan di Bali saja. Kurang yang melihat kontribusi Batam dan Bintan pada kepariwisataan Indonesia. Ada yang masih mempertanyakan, lha warganegara ASEAN kan Free visa ke Indonesia termasuk ke Batam, Bintan, jadi masalahnya apa?
Saya jawab, yang ke Indonesia – termasuk ke Jakarta dan ke Bandung – berlibur kurang dari satu minggu itu kebanyakan warga Asia, bahkan Jepang dan Korea sekalipun. Jadi, membayar extra US$15 untuk selisih antara visa 1 minggu dan 1 bulan tidak dapat diterima, apalagi kalau mereka berlibur dengan keluarga yang terdiri 4 orang. Apalagi bagi warga asing yang di Singapura, misalnya yang adalah expatriates atau yang ingin mengadakan tour extension ke Indonesia berwarganegara Amerika, Eropa, Cina, Korea atau India untuk main golf atau berliburweekend selama satu atau dua hari saja, maka membayar US$ 25 ini menjadi sangat tidak bisa diterima, alhasil mereka lebih baik ke Malaysia/Johor saja.
Lagipula, menurut berita, travel agents di Singapura ada yang baru diberitahu mengenai pencabutan visa 1 minggu ini satu haru sebelum diberlakukannya kemarin atau bahkan tidak diberitahu sama sekali.
Masalah kecil2 tetapi yang merupakan kerikil tajam ini yang sangat menghambat peningkatan wisatawan ke Indonesia, dan hilangnya kepercayaan industri pariwisata asing pada peraturan2 yang berlaku di Indonesia.”
Lain pula apa yang diberitakan di Jakarta Post. Dalam mengumumkan perubahan besarnya fee yang dikenakan terhadap wisman dengan VoA, perspektifnya dilihat dari penambahan izin tinggal sehubungan dengan dinaikkannya tarif untuk visa tersebut.

ARAH PEMASARAN PARIWISATA 2010-2014

Mulai tahun 2010, Amerika Serikat dan Taiwan dimasukkan kembali sebagai dua di antara 15 fokus pasar wisman bagi Indonesia, tetapi Filipina tidak lagi sebagai fokus pasar. Maka kini 16 fokus pasar wisman untuk Indonesia terdiri dari : Australia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, India, Jepang, Cina, UAE, Saudi Arabia, Rusia, Jerman, Perancis, Belanda, Inggris, Amerika Serikat dan Taiwan. Demikian menurut Direktur Pengembangan Pasar, Kemenbudpar, Syamsul Lussa.
Direktorat Jendral Pemasaran Pariwisata untuk periode 2010-2014 hendak melaksanakan kegiatan pemasaran dengan tiga basis utama, yaitu: (1) Meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara sebesar 20% secara bertahap dalam lima tahun. (2) Mempromosikan 10 tujuan pariwisata Indonesia melalui saluran pemasaran dan pengiklanan yang kreatif dan efektif. (3) Melakukan konsolidasi akses transportasi mancanegara dan dalam negeri, terutama ke 10 tujuan pariwisata Indonesia.
Dalam salah satu paparan dari Dirjen Pemasaran Pariwisata Kemenbudpar, Sapta Nirwandar, berkaitan itu, mengungkapkan strategi pemasarannya mencakup ide membangun country imageakan dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, untuk image destinasi pariwisata hendaknya dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah, sedangkan mengenai promosi produk pariwisata oleh pihak swasta atau industri.
Strategi pemasaran akan berfokus dengan menerapkan horizontal marketing, antara lain menggunakan on-line. Melaksanakan integrated marketing communication, yang mencakup kegiatan public relations melalui penyebaran materi yang kuat dengan news value, melaksanakaan co-marketing, dan meningkatkan peran VITO, – Visit Indonesia Tourism Office. Vito merupakan kantor-kantor yang ditunjuk mempromosikan pariwisata di 10 kota internasional. Selain itu, juga kerjasama dengan KBRI.
Adapun pemasaran produk wisata, akan difokuskan dengan thematic product, seperti tema tour untuk menikmati spa, diving, golf dst. Produk di luar kaitan alam dan budaya, mencakup religious tourism, green tourism, MICE dst.
Arah dan strategi pemasaran tersebut, hendak dilaksanakan melalui pokok-pokok program pemasaran, meliputi : (1) Fasilitasi consumer show , direct selling di luar negeri. (2)Familiarization trip untuk wartawan, tokoh dan selebritis dari luar negeri ke Indonesia. (3) Skema pemberian stimulus. (4) Publikasi destinasi pariwisata. (5) Mendorong kegiatan pariwisata dalam negeri, wisnus. (6) Penambahan aksesibilitas udara dan (7) Meningkatkan kualitas pelayanan termasuk di bandara, taksi, Visa on Arrival, dls.